Pernahkah merasa kok teman-teman yang tidak rutin beribadah diberkati juga hidupnya? Kerjaan mereka lancar, punya ini itu yang entah kapan kita bisa punyai.
Aku salah satu yang berkali-kali berfikir demikian.
Hari ini ada anak baru di kantorku, dan dia penggantiku posisiku. Aku belum juga mendapatkan pekerjaan pengganti, namun penggantiku sudah ada…
Rasa penolakan seperti membentur diriku, dan membuatku melo.
Walau setelah itu aku mencoba bangkit dan beriman bahwa ada hal yang sangat jauh lebih baik setelah semua ini berlalu, namun aku sempat terfikir rasanya kok ikut TUHAN berasa lebih susah ya. Saat aku belajar terus bersyukur dan berpengharapan, masalah tuh ada-ada aja. Dan aku sempat meledek dalam hati,”Pantesan temenMU sedikit TUHAN.”
DIA seperti menjawab,”Cyn, siapa yang lebih terberkati, mereka atau kamu?Bukankah kamu jauh lebih kaya? Karena kamu memilikiKU, Cyn.”
Saat makan siang, salah satu teman lamaku bbm, dan dia bilang besok aku akan ditelpon untuk interview hari senin, sebuah oase bagi padang gurunku, thanks GOD…
So sekarang siapa yang lebih terberkati?
